Minggu, 20 November 2011

Heritage Cultural Show on Car Free Day Dago Bandung


Car Free Day (CFD) tampak tak asing di telinga warga saat ini. Program yang sebenarnya sangat ditunggu masyarakat di hari libur (baca: hari minggu). Saat ruang terbuka (open public space such as parks, squares, fields or just a street corner where the youngsters gathered) mengalami kelangkaan, CFD hadir menjadi solusi instan. CFD pertama di Indonesia diketahui dilangsungkan lokasinya di pusat (baca:ibukota) Jakarta tepatnya di jalan Sudirman - Thamrin dalam kurun waktu kebelakang yang tidak terlalu lama. Namun, hari minggu ini (20 Nov 2011) dari informasi, tidak ada jadual Car Free Day di jalan Sudirman - Thamrin sehingga jalanan dapat dilalui seperti biasanya, sungguh sangat menyayangkan. Hal yang ditunggu warga untuk memanfaatkan ruas jalan sebagai arena bebas dari kendaraan yang kemudian dikenal Car Free Day (CFD) ini di tempat pertamanya dimulai, tidak konsisten di Jakarta dalam hal jadual.

Berbeda dengan Car Free Day Dago disekitar ruas jalan Ir. H. Djuanda. Mulai dari ruas jalan Cikapayang tepatnya perempatan jalan di bawah Jembatan Layang Pasopati, sampai tikungan jalan yang mengarah ke kampus ITB sebelah utara (jl. Dayang Sumbi), sejak tahun lalu (2010) opening season, sampai hari ini (20 Nov 2011) hingga setiap minggu pagi berikutnya (insya Allah) setiap jam 06.00 wib - jam 10.00 wib, secara otomatis acara CFD akan menutup akses transportasi kendaraan di DAGO. Selain di dua tempat tersebut, CFD menjadi suatu animo tersendiri yang menggairahkan suasana pagi di hari libur (baca:minggu) untuk melepas penat kendaraan. Bahkan pada hari raya (Idul Adha 1432 H) yang lalu sekalipun, CFD Dago yang lalu masih berlangsung dengan warga yang beraktivitas tanpa kendaraan (bermesin) di sana.

Masing-masing warga seperti yang tampak di gambar, berupaya mempertontonkan kebolehannya dalam berkreasi. Tampilan apik pemain panggung yang biasa show dari panggung ke panggung juga memanfaatkan CFD sebagai sarana promosi Gratis. Kesenian yang sudah banyak ditinggalkan seperti kesenian 'Sisingaan' dari daerah Subang, masih bisa terlihat di sekitar CFD. Hal yang mahal nilainya jika secara khusus menonton pertunjukkan 'Sisingaan' dalam acara khusus. Selain itu, 'kabisa' (istilah Sunda untuk aksi dan kebolehan) warga Bandung dan sekitarnya menjadi tontonan yang menghibur. Sanggar-sanggar seni anak muda dan juga aksi teatrikal serta costum play dari karakter Jepang dan tokoh pewayangan menjadi bumbu penyedap yang sangat sayang dilewatkan. Anak muda dengan segala hobinya pun bebas berekspresi, seperti photography, freestyler juggling bola, skate board, bersepeda, sehingga 'mejeng' di CFD sudah bukan sembarang aktivitas karena itu aktualisasi identitas baik personal atau komunitas (lihat di Video, youtube.com).

Car Free Day belum dikemas apik meskipun yang tampil disana (CFD) telah apik sebagus dan seindah mungkin memamerkan aksi jalanannya. Kemasan apik para kreator CFD menjadi kurang sempurna tanpa percepatan ekonomi kreatif kota Bandung khususnya dan Bangsa Indonesia secara umum. Tugas pelaku tata kota dan Pemkot untuk mengemas ini menjadi komoditas ekonomi kreatif. Kita perhatikan bahwa tujuan anak muda berkumpul di CFD adalah sarana kebebasan (bisa disebut pelampiasan) karena mereka sangat terbatas ruang terbuka gratis untuk 'kongko-kongko', berolahraga, menyalurkan hobi, menikmati hiburan dan refreshing di hari libur. Volume pengunjung dari ruas jalan yang dipergunakan di CFD Dago (sekitar 1-2 km) sekitar 1000 warga. Hal ini mengindikasikan adanya ruang sekitar 1-2 meter untuk 1 orang warga leluasa untuk berekspresi. Di tengah himpitan tata ruang yang begitu padat saat ini, 1 meter di area CFD benar-benar sangat dinikmati. 1 meter inilah tempat terbuka (open public space) yang terasa manfaatnya untuk bebas berekspresi yang tidak terganggu arus lalu-lintas benar-benar nilai yang mahal saat ini. Sebagai bandingan di Kota Bandung, lokasi lain seperti area Sabuga (tempat olahraga) pagi di sekitar kawasan Siliwangi bisa dipakai area olahraga tapi tidak leluasa untuk berkreasi dalam radius 1 meter karena terganggu aktivitas olahraga (lari, senam dll). Hal serupa bahkan terbilang sangat padat di hari libur (baca: Minggu) untuk kota Bandung adalah kawasan gasibu dan gedung Sate (akhir rute sekitar jembatan Pasopati) dimana ruang anak muda berkreasi sangat sulit pergerakannya dengan himpitan aktivitas utama disana yaitu BELANJA. Oleh karena itu, CFD Dago adalah pilihan yang paling menjanjikan untuk tumbuh dan menjadi sarana percepatan ekonomi berbasis kreativitas anak muda bebas berekspresi.

Anak muda adalah tulang punggung berjalannya percepatan ekonomi kreatif. Semangat anak muda yaitu hanya satu: DINAMIS. Jika kedinamisan telah menggejala dalam ruang kehidupan sehari-hari, maka anak muda akan banyak menghasilkan karya masterpiece. Hasil gubahan anak muda ini selayaknya dihargai dan diapresiasi tinggi. Hal ini yang akan menunjang dan bisa menjual kekhasan suatu daerah. Jika Bandung memiliki Sisingaan (kesenian Subang) yang bisa menjual (entertainment) maka penonton (warga) pun akan lebih menghargai kreasi seni ini dan akan menjaga dengan sering menontonnya karena mudah didapat dan akses terjangkau (komunikasi antarpihak) fleksibel dilakukan saat itu. Pertunjukkan Heritage inilah yang akan menjadi nilai tambah kedinamisan. Suatu pesta rakyat yang menampilkan banyak keluhuran budaya daerah ditambah kedinamisan anak muda berekspresi adalah 'sesuatu' di dunia ekonomi kreatif.

Kondisi ini (Gejala anak muda bebas berekspresi) akan mempengaruhi penilaian dan apresiasi suatu daerah dengan heritage memaknai ruang terbuka / Open Public Space dengan sangat elegan, simpel dan terpenting ekonomis. Hal yang sangat bagus untuk memperkenalkan HERITAGE (keluhuran budaya) daerah yang menjadi nilai tambah percepatan ekonomi kreatif. Ruang terbuka di CFD bisa dibilang sangat cukup untuk menjadi miniatur kekayaan budaya (baca: heritage) daerah. Hal yang tidak bisa terbayangkan jika setiap daerah yang tentunya memiliki heritage kesulitan mempertunjukkan keluhuran budaya daerah itu padahal jika saja Car Free Day menjadi arenanya tentu warga akan antusias dan menghargai heritage tersebut dengan apresiasi yang bernilai tinggi. Indonesia adalah negara yang kaya akan heritage dan pengejawantahan keluhuran budaya tersebut bisa dijabarkan dengan cara yang unik di Car Free Day.

3 komentar:

raeArani mengatakan...

bro, videonya di-embed ke body post, dong.

RiSaQi mengatakan...

thx bro, masukkan berharga. klo masih ada d page utama, mudah2n videonya msh nyaman diliat. pembenaran.hehe. tp klo lebih pas d body post, itu bagus banget. sy cuma ngasih gadget tambahan fasilitas blogger, klo tampak jelek, mhm mf. tp suggest-ny terus dnanti.

adi nugroho mengatakan...

memang kadang rangking di alexa rank bisa penting bisa juga enggak. tergantung kita sebagai pemilik website / blog. tapi gak ada salahnya tulisan kita atau sesuatu yang memang kita ingin publish ke masyarakat internet dapat di akses oleh banyak orang.

salah satu hal yang bisa mempengaruhi ranking adalah backlink. maksudnya berbagi link yang kedua nya memang aktif memasang di dalam artikelnya. bukan hanya sekedar link di comment saja.

nah...

ini ada program pertukaran link yang menarik. apalagi yang mengadakan adalah website dengan alexa rank yang bagus. untuk tahu rangking kita. coba aja lihat di

www.webstatsdomain.net


program yang dimaksud ada di link ini coba liat aja sendiri dan buktikan sendiri.

program penukaran link

http://www.nusapalapa.com/BACA_INI_JUGA_news_list.html

.